24 July, 2010
20 July, 2010
writing: simple but hard!
Berhubung disuruh nulis untuk buletin jurusan, Suryakanta, diperintahlah saya bersama Aura untuk menulis dan mewawancara seputara Kehidupan Mahasiswa semasa Tahun 1960-an. Ini tulisan saya belum digabungin sama hasil wawancaranya si Aura, maybe soon akan saya rilis ulang. Masih banyak khilaf dalam tulisan ini, so maklum plisss :) Here we go,
Secara sosial-kultural kehidupan mahasiswa dari masa ke masa pastilah berbeda, gaya hidup mahasiswa tidak lepas dari fenomena zamannya. Terlebih lagi pada masa 60-an, masa dimana banyak orang menyebutnya era Orde Lama. Pada era ini Pemerintahan Soekarno begitu dominan dari politik Demokrasi Terpimpin, gencarnya gerakan revolusioner yang digalakkan oleh para pemuda, hingga Gerakan 30 September yang merupakan satu dari banyak peristiwa kontroversial yang terjadi di Ibu Kota saat itu. Dalam rangka semangat revolusi yang digalakkan oleh Soekarno, para mahasiswa membentuk gerakan revolusioner bernama Pemuda Rakyat. Semangat yang juga didengung-dengungkan oleh Bung Karno yaitu sikap anti-nekolim (neokolonialisme dan imperialisme), dimana saat itu terjadi pemboikotan besar-besaran terhadap segala hal yang berbau Barat. Hal ini yang membuat era 60-an berbeda dengan masa-masa sebelum atau sesudahnya. Unik untuk dikaji kemudian bagaimana kondisi kehidupan mahasiswa ditengah kemelut politik saat itu, terlebih di daerah ibu kota Jakarta. Kesan modern tentu belum tampak pada masa itu terlebih lagi pemerintah sedang gencar-gencarnya untuk mengkampanyekan anti-budaya barat.
Gaya hidup mahasiswa saat itu jauh dari kesan modern dan justru sangat sederhana sekalipun bagi mahasiswa yang tinggal di Ibu Kota. Seperti yang tertuang dalam Jakarta 1960-an karya Firman Lubis, mahasiswa FKUI, dimana penulis menempuh pendidikan tinggi saat itu, mayoritas mengendarai sepeda sebagai transportasi ke kampus, sangat sedikit yang mengendarai sepeda motor diluar itu mereka menggunakan angkutan umum seperti oplet atau berjalan kaki. Dari segi gaya berpakaian belum ada mahasiswa yang memakai celana jeans seperti saat ini, selain harganya yang mahal dan belum diproduksi di dalam negeri, semangat anti-Barat begitu melekat pada masa itu sehingga bagi mahasiswa yang mengenakan jeans untuk kuliah buisa dianggap seorang kontrarevolusioner. Salah satu yang unik pada masa itu adalah belum ada mahasiswi yang mengenakan kerudung dan celana panjang, umumnya mereka memakai rokok. Televisi swasta belum boleh didirikan saat itu dan satu-satunya stasiun televisi yang ada hanyalah TVRI, itu pun baru mulai tayang pukul lima sore. Sedangkan RRI merupakan satu – satunya radio saat itu, sehingga salah satu hiburan bagi mahasiswa adalah menonton film di bioskop. Sekali lagi karena kuatnya semangat anti-Barat, maka film – film produksi Amerika dilarang tayang dan film yang diputar saat itu adalah film-film yang diproduksi oleh negara-negara sosialis seperti China, Rusia, Jepang, ataupun film nasional. Namun anehnya, Presiden Sekarno sendiri rutin menonton film Amerika setiap minggu di istana. Selain film, hiburan mahasiswa lainnya adalah mendengarkan musik melalui piringan hitam karena rekaman pita kaset belum ada saat itu. Musik yang menjadi trend di era itu adalah musik – musik pop Amerika, lagu-lagu dari Elvis Presley hingga The Beatles yang muncul di awal 60-an banyak disenangi remaja. Lagi – lagi semangat anti-nekolim menjadi alasan mengapa lagu-lagu The Beatles tidak diputar di Indonesia. Setelah itu mulai bermunculan musisi dalam negeri seperti Koes Plus bersaudara yang sempat ditahan karena dianggap sebagai kontrarevolusioner. Itulah sedikit gambaran kehidupan mahasiswa di era 60-an dimana gaya hidupnya sangat dipengaruhi oleh kemelut politik saat itu.
Berbeda dengan ibu kota, Yogyakarta yang notabene sebagai kota pelajar, di era yang sama tentu juga memiliki gambaran berbeda mengenai kehidupan mahasiswanya. Berikut kutipan wawancara redaksi Suryakanta bersama Bapak Djoko Soekiman, salah satu dosen Ilmu Sejarah FIB UGM yang juga pernah menjabat sebagai dekan FIB selama 3 periode. Beliau merupakan salah seorang mahasiswa yang juga menuntut ilmu di Universitas Gadjah Mada pada era 60-an.
Tugu Pancoran, belum ada gedung tinggi :))
PS: Suggestions are needed!
16 July, 2010
5 most-wanted stuffs :P~
long dress
(source: chictopia)
harem pants
source: chictopia
blue jeans vest
(source: lookbook)
browned leather belt
(source: liebemarlene.flickr )
leather shoes
source: urbanoutfitters
Those are my most-wanted stuffs that i haven't got yet and i hope could have them soon thou i got them in the flea-market or in any 2nd hand shop.
Uhmm, well sorry if those links aren't suitable with the pictures above, i just forgot to save the links ;)
13 July, 2010
Oranje Boven!

Actually, i've never follow anykind of football match, even when The World Cup comes. But, it's totally different in this WC 2010, i almost follow the matches, even it wasnt detail. Because everytime i sit on my computer, my father and brother always turn on the tv which is lied next to me, so automatically i focus on my monitors, the PC monitor and the tv. I don't know just because i learn Dutch, so i have to stand for The Oranje Team, a.k.a The Dutch Team. I even dont know who the players are, i just enjoyed those matches of Netherland after the Asian lost its representative in the WC (that was one of the sad moments when Japan was beaten by Uruguay). In my opinion The Oranje played well, if they didnt play well they couldnt get into the final of course. But I saw that they played rudely, it was showed by the number of the yellow card that given by referee, and one red card for Heitinga. I admitted that Spain has amazing keeper and they played quite well and i thought that they worth to be the winner. Beside it was my 1st time enjoyed the football match, i also got my 1st experience in gambling, and i'm the bad gambler. Marcel (Bagaskoro for sure), was the man who asked me to gamble, first, he asked me whether Spain or Netherland would be the winner, and i said that Spain probably could be the winner (as Paul Octopus said), but i clearly said that i support the Oranje. Then he asked me to gamble, he hold the Spain and i with the Oranje. The winner would be treated by the loser in the Waroeng Steak, kinda steak cafe.
Well, since those matches, i began to know those fascinating players like Van Bronckhorst (who has the Indonesian blood), the awesome Sneijder, the amazing Arjen Robben, and the others :)) thou i had dripped my tears while i was seeing Sneijder looked pathetic and cried :"((((( You guys are guhreaaaaaaattt and aw aw awesome! It just about the unfortunate fate (try to entertain myself anyway). I keep supporting the Oranje Boven (Oranje Almighty) thou some people here said that it's pathetic to support the country which is ever colonized us..but I dont care! Just the petty-minded people who say that sucha thing.
Anyway, i found damn-cool tees on Suave magazine...sucha brilliant idea and creative!
Do you get the point? So, the KNVB (Koninklijke Nederlandse Voetbalbond) made advertising by producing the Oranje tees which has the face-print of the Dutch players inside. When you turn t-shirt inside to cover ur face, the face-print of the player will appear and replace yours. Isn't it gorgeous???
--- Oranje Boven ---
Subscribe to:
Posts (Atom)





+copy.jpg)





.jpg)