Pages

05 January, 2014

Cara Hidup Elegan a la Orang Indonesia



Hallo blog!

So here we go, setelah sekian waktu tidak menuangkan idea tau sekedar menulis curhatan basi, saya kembali ingin menggoreskan sedikit hal-hal menarik yang saya temukan akhir2 ini. Sebuah buku milik teman yang sekian lama teronggok di kamar dan tak kunjung saya baca, tiba-tiba menarik perhatian. Mumpung minat baca saya lagi on going, maka saya iseng membuka-buka halaman demi halaman. Buku tersebut adalah goresan tangan Jean Gelman Taylor dengan judul Kehidupan Sosial di Batavia. Tak sengaja saya menemukan sepenggal paragraf yang secara tidak langsung menjawab pertanyaan yang dulu pernah terbersit di benak saya.

                “Pada masa berikutnya, beberapa penulis lain mengemukakan kekagumannya terhadap kebiasaan dan tingkahlaku yang khas di Indonesia. Mereka menyebutnya sebagai “keramahan Indies”. “Keramahan Indies” ini antaralain keroyalan memberikan hadiah pada teman dan sudara. Juga keramahan pada tamu yang selalu mereka hibur agar betah berlama-lama di rumahnya. Mereka melihat bahwa hidup yang elegan adalah kehidupan sehari-hari yang berjalan dalam tempo yang lambat, percakapan di luar rumah di malam hari selama berjam-jam, berjalan-jalan dengan kereta kuda dan bermain bola. Mereka begitu hangat dan suka menolong sesama orang Eropa yang dianggap oleh para kritikus sebagai sebuah kemunafikan semata.”


Sepertinya saya sekarang mengerti bagaimana kebiasaan bercengkrama atau nongkrong berlama-lama di Indonesia berasal. Bagi seorang mahasiswa sejarah, katakanlah saya terlambat mengetahui hal ini. Buat mereka, juga saya dan teman-teman, yang sering nongkrong sembari minum kopi atau menghabiskan waktu makan dengan mengobrol hingga berjma-jam bersama rekan nampaknya sudah menjadi kebiasaan harian. Tengok saja di kantin kampus, burjoan, atau angkringan dimana orang dari berbagai latar belakang menjadi cair dalam satu obrolan atau isu terhangat. Aktivitas tersebut tidak hanya berlangsung sepuluh atau tiga puluh menit saja bahkan kadang bisa berjam-jam! Yah, ini tergantung pada tipikal masing-masing orang, yang memang butuh nongkrong karena ingin menghindari tekanan pekerjaan sejenak atau ada juga orang yang saking “selo” (punya waktu luang banyak)nya bisa rutin nongkrong berjam-jam, barangkali saya termasuk golongan kedua. Obrolan bisa muncul lewat apa saja, dari awalnya yang hanya membahas seputar perkuliahan atau urusan pekerjaan bisa berlanjut hingga topic terhangat; kasus selebriti, keadaan politik terkini, cerita-cerita konyol yang muncul dari satu mulut kemudian diiringi cerita dari mulut lain hingga ujung-ujungnya ngomongin orang lain. Dari yang awalnya hanya berniat bertemu tiga puluh menit saja bisa mundur hingga satu jam kemudian dua jam dan akhirnya sampai bahan obrolan habis, pertemuan baru berakhir. Bahkan tak jarang dari satu pertemuan kita akan bertemu dengan orang baru, temannya teman, atau orang baru yang ikut cair dalam obrolan kita seperti yang sering terjadi di angkringan atau burjoan. Kita tahu dan sadar sebenarnya bahwa pada saat yang bersamaan masih ada satu dua pekerjaan yang sedang menanti atau tertunda untuk dikerjaan, tetapi besar keinginan untuk bertemu kawan atau sahabat untuk sekedar berbincang sejenak mengalahkan prioritas lain.

                            "Orang-orang Eropa ini semakin menambah keluwesan dalam berbudaya Indies dengan meminum kopi di pagi hari, tidur siang, dan saling berkunjung satu sama lain.."

Kebiasaan nongkrong sambil “jagongan” ini tidak hanya dialami oleh anak muda saja yang gemar berkumpul di tempat-tempat terhangat seperti coffee shop, galeri seni, atau burjoan, kalau Anda coba tengok ke beberapa sudut perkampungan padat penduduk hamper dipastikan di sore hari atau waktu-waktu senggang lain banyak penduduk akan nongkrong di depan rumah, cakruk (pos ronda), hanya untuk sekedar melamun atau berbincang dengan tetangganya. Di Jogja sering saya temui hal semacam ini, seperti di perkampungan sekitar Kali Code, atau di satu daerah dekat rel kereta api daerah Pengok. Pernah satu kali saya menemui fenomena serupa sewaktu saya sedang menempuh perjalanan menuju Surabaya Town Square dengan sepeda motor. Karena ada dari teman kami yang tidak memakai helm, maka terpaksa kami menghindari jalan raya yang sarat akan keberadaan Polisi. Tibalah saat itu kami melewati perkampungan –sangat- padat penduduk, dimana banyak orang nongkrong depan rumah dari anak kecil, emak-emak, sampai bapak-bapak tentu saja kami harus menuntun kendaraan kami karena jalan yang padat penduduk dan sempit. Sesaat saya berpikir, ini semua orang kenapa berada di luar rumah? Sekalipun saat itu sudah menjelang senja. Apa yang seharusnya mereka lakukan? Tidakkah ada hal lain yang begitu lebih penting untuk dilakukan di dalam rumah mereka? Entahlah, barangkali mereka terlalu menikmati waktu luang hingga terlewat elegan.

Perempuan Indo tampak sedang bersantai dengan kebaya dan kain batik.  Sumber foto: Tropen Museum

Saya kemudian jadi teringat oleh komentar salah seorang tamu dari Belanda yang waktu itu ikut dalam rombongan suatu event. Saat itu kami sedang berada dalam bus pariwisata yang akan menuju Ibis Style Hotel. Karena kami sebelumnya harus drop tamu lain di Hotel Inna Garuda, maka kami kemudian melewati Jalan Dagen untuk menuju hotel tamu terakhir. Yap, jalan dagen yang sekecil dan sepadat itu akan dilewati oleh bus kami yang cukup besar. Awalnya saya khawatir kalau-kalau tidak cukup, karena tahu sendiri di sepanjang jalan banyak kendaraan di parkir dan juga orang berjualan, fyi: jalan dagen merupakan kawasan pariwisata dimana banyak penginapan dan restoran berdiri disana. Benar saja, tamu kami pun cukup heran dan bahkan memotret dari dalam bus kondisi di hadapan kami: orang-orang harus minggir sejenak bahkan tukang becak sekalipun hanya untuk memberikan ruang bagi bus kami untuk melintas. Saya awalnya malu dengan hal semacam ini. Betapa tata ruang kota kita tidak teratur dan sangat semrawut, dan bus sebetulnya tidak seharusnya lewat jalan ini. God!

Dugaan saya salah, komentar tamu saya justru mengagetkan dan justru cenderung mengapresiasi fenomena ini. Inti perkataannya yaitu: Saya terkesan dengan ini, orang disini bisa toleransi dengan pengguna jalan lain tanpa menimbulkan konflik, mereka saling member ruang dengan orang lain. Saya menimpalinya dengan berkata bahwa ya, tentu ini berbeda ya dengan di Negara Anda  dimana semuanya diatur dengan baik, orang berjalan sesuai tempatnya dan bukankah mereka disini egois ya? Karena memaksakan kepentingan mereka dengan berjalan tidak sesuai tempatnya (missal orang jualan di trotoar, orang jalan kaki diganggu jalannya oleh penunggang sepeda motor). Tamu saya kembali berkata bahwa “Tetapi orang-orang disini sangat slow tidak tergesa-gesa,  laid back, dan itu menyenangkan, seperti tidak diburu sesuatu.” Kemudian salah seorang teman ikut berkomentar namun saya tidak bisa mengikutinya, saya pun menyerah dan menjawab tidak tahu saat beliau menanyakan apakah saya tau maksud mereka? Hehehehe

Baiklah. Inilah barangkali yang dimaksud dengan “Keramahan Indies”; menjalani hidup dengan tempo yang lambat adalah cara hidup yang elegan J

Well, see this? Ternyata orang dari Negara lain melihat beberapa kebiasaan kita ini dari sisi yang berbeda, mereka menganggap kehidupan kita yang laid back, dengan jalan santai, “berbagi jalan” (saling memberikan space antar pengguna jalan meskipun kita tahu secara aturan tidak dibolehkan), termasuk nongkrong berjam-jam –barangkali- adalah hal yang tidak buruk menurut mereka. Jelas sangat berbeda dengan kehidupan mereka yang selalu in hurry, harus tepat waktu karena bagi mereka time is money. Kita juga kok, waktu terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja tanpa bercengkerama dengan minuman hangat faforit ditemani obrolan bersama teman terkasih *haissss



17 December, 2013

CRPD


Siang ini (17/12) baru saja dilaksanakan Rapat Koordinasi Kewajiban Internasional Indonesia Kepada Komite Pemantau Hak-hak Penyandang Disabilitas PBB di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta. Acara yang diadakan oleh Direktorat HAM dan Kemanusiaan di bawah Kementerian Luar Negeri tersebut mengundang instansi pemerintah dan non pemerintah yang menggeluti isu disabilitas. Pokok dari diadakannya pertemuan yang menurut saya lebih berisikan “diskusi” atau Tanya jawab tersebut mengkritisi sikap pemerintah dan masyarakat terhadap Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) sebagai Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN HAM). RAN HAM ini yang kemudian menjadi instrument penting dalam mengarusutamakan isu-isu disabilitas dalam pembangunan nasional.

Agenda rapat koordinasi tersebut menghadirkan tiga narasumber yaitu Direktur HAM dan Kemanusiaan Kemenlu, Muhammad Anshor, Biro Hukum Setda DIY, Bapak Sukamto, dan Setyo Adi dari ketua Dria Manunggal. Presentasi cukup menarik ketika Bapak Setya memaparkan banyak informasi mengenai kendala dan apa saja program-program yang telah berjalan di Yogyakarta terkait  pengarusutamaan isu disabilitas. Diantaranya yang menarik yaitu saat beliau memaparkan betapa pemerintah kita menghiraukan kerentanan seseorang mengalami disabilitas, misalnya bagaimana penggunaan pestisida berlebihan pada pertanian bawang di Brebes bisa membuat para petani mengalami kelumpuhan otak atau bagaimana pencemaran limbah timbang pada ikan-ikan di Tanjung Priok yang berpotensi pada kecacatan seseorang. Selain itu beliau juga menyampaikan kurangnya kesadaran aparat pemerintah dalam mengakomodir hak-hak kelompok difabel dalam mengakses layanan public seperti layanan kesehatan, transportasi, ataupun hukum.

Pak Setya juga memaparkan berbagai program pemerintah yang telah melibatkan Organisasi Penyandang Disabilitas seperti dalam Musrenbang, pemberian kuota tenaga kerja, latihan kerja, jaminan kesehatan khusus, dan lain-lain meskipun belum optimal.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab yang tentu saja menarik banyak audiens untuk mengungkapkan segala ide dan kritik terhadap sikap pemerintah terkait CRPD. Ternyata tidak hanya pemerintah saja yang berperan aktif dalam mengakomodir hak-hak kelompok difabel namun masyarakat juga perlu memiliki kesadaran untuk saling menghargai akan kebutuhan kelompok tersebut. Kita masih bisa melihat misalnya di trotoar Jalan Malioboro misalnya, guiding block bagi tuna netra justru digunakan untuk berjualan atau tempat parkir kendaraan. Ada juga audiens yang mengeluhkan bahwa Bank Indonesia tidak menyediakan layanan ATM bagi para penyandang tuna netra atau masih banyak fasilitas bangunan yang tidak aksesible bagi kelompok difabel.

Rekomendasi dari acara tersebut bermaksud menyinergikan kebijakan lintas sektor dalam mengakomodir kepentingan kelompok difabel. Tentunya banyak audiens juga berharap bahwa keterlibatan pemerintah dalam pengarusutamaan isu disabilitas ini tidak hanya sebatas dilakukan untuk memenuhi “laporan” kerja mereka saja namun program yang ada juga betul-betul sesuai dengan kebutuhan kelompok difabel.



Tantri Swastika

08 November, 2013

Kopi dan Bola

derby mataram @ Maguwo Internasyenal Stadiyum
Kopi dan Sepakbola

Pasti banyak sudah yang tidak mendustakan dua kenikmatan ini. Nonton bola sambil ngopi. Atau ngopi sehabis main sepakbola? Sesukamu lah.

Everything has been changing. Kata saya. Dulu saya nggak biasa minum kopi. Minum kopi cuma nyruput kopi oranglain, jarang bikin kopi buat dinikmatin sendiri. Itu pun kopi sobek alias kopi saset. Kopinya pun kopi blend-blend an. Sekarang? Saya rutin ngopi. Paling nggak sehari satu atau dua kali. Wajib minum tiap pagi. Kopinya kopi gilingan dari biji kopi asli. Bukan lagi kopi sobek dan diminum tanpa gula.

Dulu saya benci bola. Sering saya rebutan channel tv, jamannya musim piala dunia. Sampai saya nangis karena ga bisa liat siaran lain selain bola. Suka heran banget, kenapa bola satu bisa-bisanya direbutin dan ditonton banyak orang. Sekarang? Saya bisa sering nonton tim bola lokal/timnas di stadion, nonton bareng liga italia dan timnas di warung kopi. Kadang baca kolom berita bola lokal, nasional maupun internasional.

Hmm… adakalanya ada hal yang dibenci namun tidak terelakkan untuk bisa disukai hehehe bisa jadi karena trend, yang memaksa kita menyukai sesuatu, atau bahkan disebabkan oleh seseorang, yang "meracuni" kita untuk menyenangi hal yang sama. Kalau mengaitkan dua hal di atas maka akan menemukan satu orang yang juga gila akan dua hal itu dan mengenalkannya kepada saya. Lagi-lagi, siapa lagi kalau bukan partner saya? :P Energinya di pagi hari berangkat dari kopi. Sudah seperti nasi, kopi jadi santapan wajib sehari-hari. Begitu juga dengan sepakbola, yang dianut setaat agamanya. He he he That's right, bener kalau dia lah yang punya andil dalam "meracuni" saya untuk hobi minum kopi dan rutin nonton bola. 


Seperti orang bilang, kita nggak pernah bisa jatuh cinta sama sesuatu tanpa kita pernah mencoba atau terlibat didalamnya, ibarat kata: cinta nggak pernah buta hehehe Maksudnya segala hal harus bisa dilihat, dirasakan, dan dilakukan *apasih* ya gitu deh intinya butuh sebuah proses untuk bisa mengubah perasaan benci menjadi jatuh cinta *tsaaah* Entahlah saya ini ngomong apa. Yang jelas sudah ada banyak hal yang berubah dalam kebiasaan saya saat ini.. wohooo.!

Kadang Nggak Butuh Alasan

Selamat malam, blog!

Dari salah satu kolong langit saya kembali menyapa, yay!

            Malam ini baru saja aku pulang dari menonton sepakbola di MIS (Maguwoharjo International Stadium). Sejak kapan jadi suka nonton bola? Sejak berpartner dengan seorang fans sepakbola? Bisa jadi. Benar memang semenjak berpartner dengan seorang Sleman fans, saya jadi rutin mengunjungi MIS untuk menengok PSS berlaga. Padahal dari kecil saya sudah terdoktrin untuk tidak pernah suka akan sepakbola. Hmmmm eng ing eng... siapa sangka saat ini saya jadi akrab dengan stadion dan sering ikutan nonbar laga sepakbola timnas ataupun liga italia :)) Now the world has been changing 
Malam ini istimewa, pasalnya PSS Sleman akhirnya resmi lolos ke Final Divisi Utama dengan unggul 3-0 dari Persitara. Akhirnya ya...setelah pertandingan demi pertandingan dilewati, kini saatnya gelar juara yang sesungguhnya telah dinanti oleh para Slemania, Brigatta Curva Sud, (keduanya adalah julukan untuk supporter Slemania) dan Sleman fans lainnya. 
Sedikit bercerita, barangkali ada beberapa yang mengherankan: kenapa saya yang notabene tinggal di kotamadya justru intens menonton dan mendukung PSS Sleman, yang jelas bukan kabupaten dimana saya tinggal, dan bukannya malah mendukung tim sepakbola asal kota Yogyakarta yaitu PSIM? Tidak munafik sih memang kalau pada awalnya saya mulai menonton PSS karena ajakan partner saya, yang memang orang Sleman dan fanatik akan PSS Sleman-nya. Kemudian sejak pertandingan sepakbola liga Indonesia pertama yang saya tonton itu, saya mulai intens menonton laga-laga berikutnya. Bukan lagi menonton karena ajakan partner tapi karena secara pribadi saya punya keinginan sendiri untuk menonton. Sudah bukan rahasia lagi kalau menonton PSS bertanding pasti akan mendapat sajian hiburan dari supporternya yang selalu riuh bernyanyi 2 x 45 menit non-stop plus koreografi yang tak pernah lelah disuguhkan. Poin plus ini yang membuat saya atau barangkali ribuan penonton lainnya betah mengikuti pertandingan tim kesayangan mereka. 
Oiya, ada satu hal yang belum kesampaian buat diwujudkan, yaitu ikut awaydays, menyaksikan PSS tandang ke kota lain merupakan kepinginan saya beberapa waktu lalu. Faktor keamananlah yang belum mengijinkan saya untuk ikutan awaydyas. Pingin sih liat atmosfer pertandingan PSS di kota lain, pasti akan berbeda dengan laga yang digelar di MIS.
Fanatik? Saya sih belum sampai fanatik buat mendukung PSS, so far, saya cuma senang bisa ikut menonton dan mendukung tim sepakbola kesayangan partner, meskipun bukan berasal dari kabupaten yang sama, setidaknya kami masih berada pada propinsi yang sama hehhehe *apasih* Maksudnya, masih dalam satu koridor cita-cita mulia: mendukung sepakbola lokal. ha ha ha
Berkali-kali pertanyaan di atas muncul di benak saya, kenapa saya begitu setia ya menonton pertandingan mereka? Padahal orang Sleman juga bukan. Ah entahlah. Kadang kesenangan itu tidak butuh alasan. Agree?

Goodnite all :-*