Pages

31 May, 2016

Melihat Angkor Wat dari Kacamata Turis

Sebenarnya tulisan ini adalah lanjutan dari cerita ketika aku melalui perbatasan Thailand-Kamboja. Kisah diawali dengan serangkaian peristiwa tidak mengenakkan selama melewati perbatasan sampai kemudian aku kehilangan kontak dengan teman seperjalananku!

Sebetulnya kami berjanjian untuk bertemu di hostel A satu hari setelah ketibaanku di Siem Reap. Entah bagaimana, semenjak diturunkan di titik antah berantah oleh supir elf dan aku akhirnya mengekor dua orang bule ke hostel tujuan mereka. Namun kemudian aku menghubungi teman perjalananku itu, sebut saja Ling ling, bahwa aku berpindah hostel dan kuberikan alamatnya. Beberapa kali aku kontak Ling ling namun pending hingga 1 x 24 jam tidak ada balasan. Aku panik. Karena kalau sampai dia unreachable atau tidak dapat dihubungi, artinya dia tidak mendapatkan koneksi internet atau itu berarti ia tidak mendapatkan hostel. Saking paniknya aku menghubungi orang-orang terdekat Ling ling di Indonesia. 

Di sore harinya, beberapa jam setelah ketibaanku di Siem Reap, aku bersepedaan menuju Angkor Wat untuk membeli one-day trip tiket untuk lusa. Baru di keesokan harinya, saat berisitirahat di hotel, setelah seharian keliling kota, Ling ling berhasil mengkontakku dan bilang kalau dia sudah berada di hostel A, meeting point kami. Akhirnya... manusia itu ketemu juga! Dan dia dalam keadaan kewer alias masuk angin bahkan sempat mimisan saat bermalam di stasiun Hua Lampong! Ya, dia memang tidak menginap di hostel dan memutuskan untuk tidur di stasiun...karena ia takut tidak bisa mengejar kereta ke Siem Reap yang berangkat pukul 6 pagi! heishhh...


Berkeliling Puluhan (?) Kilometer di Angkor Wat

Salah satu hal yang dilakukan untuk menekan biaya perjalanan adalah menggunakan transportasi semurah-murahnya. Dan salah satunya adalah sepeda. Ini lah moda transportasi yang kami gunakan untuk mengelilingi Angkor Wat,yang tentunya tidak mungkin mengunjungi seluruh situsnya satu per satu, dengan 200 kilometer persegi! Tetapi rute yang kami lewati saat itu sepertinya tidak seluas itu, yang jelas sih emang bikin gempor dan capek banget apalagi saat itu bertepatan dengan hari-hari aku menstruasi! Kalau dipikir-pikir mending bayar mahalan dikit buat naik tuk-tuk keliling Angkor Wat, biar nggak begitu capek. Tapi kalau nggak gitu mah ga ada ceritanya hehehehe Mengingat panas terik matahari dan debu-debu bertebangan sepanjang perjalanan, ada baiknya memakai topi anti badai dan masker manjaahhh anti batuk pilek.
Jangan lupa: topi, celana longgar, kaos kaki anti kaki kusam biar gak kaya' ketela pohon, kaos oblong dan kipas!!
bawalah selendang/scarf. selain bisa menghalau udara dingin, bisa juga buat iket kepala kalau cuaca gerah banget, plus bisa buat penutup mulut kalo lagi dijalanan biar ga kena debu atau biar ga keliatan kalo lagi mangap pas tidur di kendaraan umum hahaha 

21 May, 2016

A very late post

Mahalo...Aloha!
Aku sudah sampai lupa kapan terakhir nulis di blog yang sudah lapuk ini. Setelah kucek di daftar post, ternyata aku belum pernah sama sekali menulis lagi di Tahun 2016 ini! Ini penting banget! Fyi, hampir separuh tahun ini berjalan dan aku kembali malas lagi untuk menulis.
Hmm.. well, semua berjalan seperti biasanya. Yang berbeda adalah di tahun 2015 lalu, aku pertama kali menerima pekerjaan full time. 9 to 4.
Tidak sulit untuk menyesuaikan dengan rutinitas yang baru tersebut. Kini aku sudah sembilan bulan bekerja, sebagai sekretaris di sebuah museum, pekerjaan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Dalam beberapa hal apa yang kukerjakan tidak jauh berbeda saat bekerja paruh waktu di LSM sebelumnya.
Kegiatan lainnya, beberapa waktu lalu aku baru saja menyelesaikan kursus Bahasa Belanda dan kembali mengikuti pembinaan dan kelas penerjemahan teks-teks sejarah berbahasa Belanda. Masih sama menyenangkannya seperti sejak awal aku mempelajarinya.
Apalagi ya? Kegiatan sosial lainnya tidak banyak yang kuikuti kecuali, diskusi bersama teman-teman se almamater dan teman dari organisasi lain.
Ada proyek jualan yang sempat tertunda sekian lama dan bikin bad mood  tapi harus tetap berjalan.


What's next? 
Rencana perjalanan ke pulau seberang masih terpikirkan dalam benak. Semoga bisa benar-benar terlaksana yaaa.. yay! Sudah lama nih nggak piknik! huhuhuhu sudah lupa asinnya air laut, dinginnya pegunungan, dan rese'nya calo bus!
Masih buanyak yang harus disusun ulang untuk harapan-harapan dan rencana yang belum terlaksana!
Ganbatte!!



yay akhirnya aku piknik lagi. Lokasi: Goa Sunyaragi, Cirebon.
Cukup menyesal karena ga jadi extend dan menolak tawaran buat lanjut jalan lagi :(

25 October, 2015

Negara Belum Pergi dari Rahimku

Intervensi Negara Terhadap Rahim Perempuan


               Tepatnya empat bulan lalu, tidak sengaja saya melihat cuplikan program televisi Mata Najwa yang saat itu tengah mengangkat topik bupati-bupati berprestasi di sejumlah daerah. Para bupat ini dianggap sosok yang berbeda dari pemimpin daerah kebanyakan karena memiliki gaya kepemimpinan yang dekat dengan rakyat. Satu sosok yang cukup menarik perhatian saya saat itu adalah Bupati Gorontalo, David Bobihoe Akib. Hal yang menarik adalah ketika Najwa Shihab menyoal program ibu hamil yang dijalankan oleh pemerintah daerah Gorontalo yang tidak hanya melibatkan tenaga medis atau dinas terkait saja namun juga aparat keamanan seperti TNI dan polisi. Menurut keterangan sang bupati, tingginya angka kematian ibu (AKI) di Gorontalo membuat pemerintah membentuk petugas khusus dalam menjalankan program perawatan ibu hamil, yakni G-gas atau Gugus Petugas. Satuan petugas ini terdiri atas tokoh agama, tokoh masyarakat, Polsek, Polres, Ramil, dan Babinsa yang siap ‘menggiring’ para perempuan yang enggan mengakses layanan kesehatan modern. Ya, masyarakat Gorontalo enggan mengakses layanan kesehatan modern karena mereka masih memiliki kepercayaan yang kuat terhadap bidan kampung daripada tenaga medis profesional. Bupati juga menambahkan, kalau dengan menempatkan tenaga-tenaga medis professional di desa-desa ini akan menjadi hal yang percuma karena kepercayaan masyarakat saja masih rendah terhadap mereka. Lalu apakah tugas aparat keamanan atau tenaga para militer ini? Aparat keamanan ini bertugas untuk memaksa ibu-ibu hamil agar mau mengakses layanan rumah bersalin atau Puskesmas.
         Dalam kerangka SDG’s, sustainable development goals yang merupakan bentuk penyempurnaan dari Millennium Development Goals, di tahun 2015 ini Indonesia menargetkan turunnya rasio kematian ibu hingga 102 per 100.000 per kelahiran hidup. Sebelumnya, sampai tahun 2007 rasio kematian ibu di Indonesia mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup. Untuk mencapai tujuan tersebut maka, pemerintah Indonesia memastikan bahwa semua kelahiran akan ditangani oleh tenaga bidan profesional. Jika berkaca pada data profil dinas kesehatan propinsi Gorontalo, Kabupaten Gorontalo dapat dikatakan memiliki angka kematian ibu tertinggi dibandingkan dengan kabupaten/kota di Propinsi Gorontalo lainnya. Penyebab dari kematian ini umumnya dikarenakan perdarahan, hipertensi, infeksi, dan abortus. Maka untuk menekan AKI ini pemerintah memilih cara yang opresif terhadap perempuan daripada menggunakan pendekatan yang berprespektif kesetaaraan gender. Melalui kebijakan semacam ini pemerintah daerah kabupaten Gorontalo telah melanggar hak perempuan yang menjadi bagian dari hak asasi manusia. Hal ini seperti yang telah tercantum dalam Instruksi Presiden No.9 Tahun 2000 Tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Dalam instruksinya, presiden menghimbau lembaga-lembaga Negara termasuk pemerintah daerah agar pengarusutamaan gender digunakan sebagai pendekatan untuk menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi kebijakan serta program pembangunan nasional sesuai dengan bidang tugas dan kewenangan masing-masing.       

How's Life?

Dag, de mooie wereld...van mij!

It's been such a long time, since the last time I wrote on this 'dirty pages'. Moreover I have promised to myself that I should be 'productive' in writing, both in English or Bahasa, even in Dutch! I thought by having some future-plans to be realized, then put it into the ''to-do-list'', would keep my life on the track. But in the end, idleness always wins my heart. Until I realize that I am not 'young' anymore, future haunts me, and I should take my self back on the track: pursue what I need and what I want. Sometimes I feel sick of those things as if I can't enjoy my life for a moment, well in fact there has been plenty of leisure time I have spent. 

Well, what's up then? It's supposed to be something new or special, which you're gonna tell at the moment, isn't it?

 Yea, for the first time since I was born, I just got my first full time job! I have been working for these two months in a museum, as a secretary, for sure. Something that I have never imagined before.
As a newbie in this kind of full time job, (because in the recent past I used to work as freelancer) there are many new things I found, I experience. It's normal when sometimes we find things going good or bad. That is a life. I just simply warn my self when I start to complain about things in life. 

Well, I work from Monday till Saturday, from 9.00 to 16.00, only on Monday and Saturday I work from 9.00 to 12.00. In fact I can still do my usual activity like attend the Dutch Class -which will be ended next week, even though I often miss my class due to my work- or even still get side job from a friend. The thing about full time work is how to avoid boredom during the office days. Some people enjoy their work, some say they still learn to enjoy, get excited, even learn to adapt the  different environment like I do. Anyway learning is about the time, until we find (or even create) another comfort zone as a place to live. 

Love life?

At least I have lessened the 'drama' that I used to make, however sometimes I still say silly/ unworthy things which my love doesn't like to hear that.
But anyway, it's been a week since he went back to this city. It seems unusual that he got 2 weeks of leave, usually he only gets 5 days until a week of free time. Wish everything goes better for us..