Pages

22 April, 2014

Ada Surga di Singapura

Hooooahmm…
Meski cacing di perut udah teriak-teriak minta makan, tapi saya putuskan untuk tetap sabar buat nahan godaan makan malam. Bukaaaan! Saya tidak lagi diet atau melakukan program penurunan berat badan. Kali ini saya lebih memilih untuk mempertahankan mood saya buat nulis. Nulis sesuatu yang bisa jadi usaha saya buat pergi ke Singapur (lagi)! Iya. Setelah kemarin gagal jalan-jalan ke pusat kota Singapura, karena kemarin saya sukses terjebak delapan jam di Bandara Changi dan harus puas hanya dengan berkeliling sampai dua kali keluar masuk pintu imigrasi, maka kali inilah kesempatan saya untuk bisa kesana lagi! Yeaaaah… karena kesempatan nggak datang dua kali! Apalagi tiga kali, terlebih empat kali, sukur-sukur lima kali. *halah* *masih elus-elus cacing di perut* *nyisirin poni* *tegakkin punggung* *kembali ngetik*
Kali ini kakak-kakak PergiDulu lagi nyari teman perjalanan buat ikutan bareng doi eksplor Singapur.

  Halah palingan juga ke tempat itu-itu doang..kalo nggak Little India, Orchard Road, atau foto-foto dengan background Merlion.

Eits, tunggu dulu! Kali ini destinasi yang ditawarkan nggak main-main. Resort World Sentosa Singapore (RWSS)! Wuihihihihi….ngeriiii! Hari gini siapa sih yang nggak tau dan nggak kepingin explore RWSS?

Kenapa sih keukeuh banget pingin jalan bareng PergiDulu?


Buat solo-traveler mungkin udah bosan dengan kejombloannya selama traveling. Maka ini saat yang sakral buat jalan-jalan bersama orang yang tepat! Siapa lagi kalau bukan PergiDulu! Selama ini saya Cuma bisa mantengin twit-twit dan postingan blog mereka yang selalu berhasil bikin iri dan mengumpat! Tetapi saya cukup berterimakasih karena PergiDulu tidak hanya sekedar ‘mengiming-imingi’ indahnya perjalanan mereka, namun juga informasi yang disediakan sangat bermanfaat buat panduan saya bepergian! Jadi, kapan lagi bisa traveling sama Pergidulu kalau bukan sekarang waktunya?? Wish me luck!

Apa menariknya?


IMHO, RWSS ini merupakan destinasi liburan yang nggak cuma fabulous, gorgeous, dan marvelous! Tetapi juga cetar maker! Alias bakal bikin cetar suasana dan diri kita terkagum-kagum setiap saat.  Bahkan buat membayangkan bisa datang kesini saja rasanya seperti mimpi! it so impossible! Bagaimana tidak? Atraksi-atraksi yang ditawarkan oleh RWSS ini bisa dibilang mampu mengayomi hajat hidup para traveler. Dari mereka yang suka memacu adrenalin atau penikmat kegiatan outdoor sampai yang hanya sekedar ingin rileks selama liburan, RWSS mampu memanjakan itu semua! You may called it "one-stop-traveling-spot"

Memang ada apa saja di RWSS?


1.  Travel for relaxed purpose

Buat kamu yang ingin rileks dan sekedar melepas penat setelah bekerja keras bagai kuda, RWSS memiliki banyak pilihan hotel dan fasilitas salon ‘n spa seperti; ESPA, Beach Villas, Festive Hotel yang tentunya punya keunggulan masing-masing. Luluran a la putri raja kini bukan lagi mimpi. Bak ratu sehari, fasilitas-fasilitas tersebut akan mengerahkan segala jurusnya hanya untuk memanjakan badanmu! Ngiler nggak tuh!!? Oiya selain itu ada pertunjukan yang tak kalah seru seperti Crene Dance dan atraksi koreografi api, air, dan cahaya di Lake Of Dreams.


2. Right place for food traveler!

Kebayang nggak sih nyobain makanan yang dimasak oleh koki seleb?? Ngebayangin aja bikin ngiler, apalagi makan betulan! Hihihi Yup! Di restaurant yang ada di RWSS kamu bisa menikmati kuliner a la masakan Perancis sampai cita rasa Asia! Belum lagi kalau makannya di Ocean Restaurant by Cat Cora, dimana kamu bisa bersantap di akuarium pertama di Singapura.
courtesy of Resort World Sentosa
3.      Race Your Adrenaline!

Yup! Selain cucok buat penikmat kuliner dan mereka yang menikmati relaksasi, RWSS merupakan tempat yang tepat buat memacu adrenaline. Siapa sih yang nggak kenal Universal Studio Singapore?? Pastikan wahana tersebut ada di top list kamu saat berkunjung ke RWSS!

courtesy of Resort World Sentosa
Buat kamu yang ngaku suka diving atau snorkeling, jangan sampai melewatkan keindahan pemandangan bawah laut beserta ribuan spesies di dalamnya. Semua itu bisa kamu nikmati di akuarium terbesar di dunia! Yup! S.E.A Aquarium merupakan tempat yang cocok buat mengenal penghuni bawah laut yang selama ini Cuma bisa kita lihat lewat layar kaca atau majalah saja. Apalagi Di Dolphin Island, kegiatan berinteraksi dengan lumba-lumba bukan lagi tidak mungkin. Pemandangan underwater yang ciamik bisa kamu nikmati di Adventure Cove Waterpark, disinilah tempat penggila dunia bawah laut untuk menyelami lebih jauh keanekaragaman hayati dari bermacam jenis hius, pari manta, sampai kerapu goliath.

4.      Broaden your knowledge while traveling!

Selama traveling, jangan lupa untuk terus update wawasan kamu dengan mengunjungi The Maritime Experiential Museum! Disini kamu akan menjelajahi seluk beluk sejarah maritime beserta segala pengetahuan mengenai jalur perdagangannya! Secara kita tinggal di Negara maritime maka wajib hukumnya belajar soal sejarah maritime disini apalagi Selat Melaka pernah menjadi jalur perdagangan tersibuk! Disini juga ada Maritime Archaeology Gallery, tempat dimana kamu bisa melihat artefak dari kapal karam Bakau dan situs arkeologi Tamasek. Perjalananmu belum lengkap kalau belum merasakan goncangan di Typhoon Theater!


Tuh kan! That heaven is so real! Surga di Singapura benar-benar ada! Sekarang butuh alasan apalagi coba buat ga ikutan jalan-jalan bareng PergiDulu ke Resort World Sentosa?? Ugh! Makin nggak bisa tidur deh!!! L



12 April, 2014

Haruskah beli oleh-oleh?



": People should really stop asking for traktir and oleh2 to those who are celebrating birthday or going on a trip. It's rude"

       Hal yang paling dilematis bagi saya setiap kali pergi plesiran adalah membeli oleh-oleh. Barangkali banyak orang lupa membuat pos anggaran khusus untuk membeli oleh-oleh. Belum lagi kalau harga oleh-oleh di suatu daerah memang mahal dari harga umumnya, seperti di Papua dimana banyak souvenir yang dibuat dari tangan sehingga harganya jauh lebih mahal. Sebut saja noken (tas anyaman) yang berbahan akar pohon dengan ukuran paling kecil dibanderol 100.000 untuk harga paling murah, atau gelang dari akar bahar (tanaman yang tumbuh di dasar laut) yang dijual sekitar 30,000 sampai 50,000. Maka ada banyak hal yang jadi pertimbangan sebelum memutuskan untuk membeli oleh-oleh. 

Siapa yang tidak ingin memborong semua tas lucu-lucu ini?  Tapi masa' iya kita beli semuanya??
Pertama, untuk siapa kita membeli oleh-oleh? Kadang kita harus punya prioritas siapa saja yang sebaiknya kita belikan oleh-oleh, teman satu kantor, teman se-genk, belum tetangga sampai saudara kita sendiri. Ada seorang teman misalnya yang diminta ibunya untuk membelikan oleh-oleh untuk satu rombongan pengajian!  Padahal budget kita terbatas, belum lagi kita harus mempertimbangkan kapasitas bagasi kita. Adalagi teman yang terpaksa harus beli piring dan klompen (sandal teklek asal Belanda) sebagai rikues ibunya. Sebenernya sih nggak masalah selama ada tambahan uang bagasi dan uang buat jasa porter! Pilihan yang sangat menyakitkan bagi saya adalah mau tidak mau harus tega untuk tidak beli oleh-oleh! Ya, tidak setega itu, paling hanya satu-dua barang saja yang dibeli untuk diri sendiri itupun dengan pertimbangan barangnya benar-benar unik, disukai, dan dibutuhkan fungsinya. Dua Ransel, akun traveler kondang itu pernah bilang kalau nggak mungkin souvenir satu pasar kita beli, maka dengan mendokumentasikannya lewat kamera saja sudah bisa jadi oleh-oleh hehe meskipun ada sebagian penjual yang melarang dagangan mereka difoto.

06 April, 2014

Menekan Budget Selama Perjalanan

          Bagi seseorang yang akan melakukan perjalanan wisata, anggaran pengeluaran tentulah menjadi hal yang sangat krusial khususnya bagi mereka yang berpegang teguh pada prinsip low budget traveling. Setiap kali habis bepergian saya selalu ditanya, “budget kesana habis berapa?” “Wah murah ya!” “Ih, kok mahal!” Nah, sebenarnya seberapa besar budget yang kita anggarkan untuk sebuah perjalanan itu bergantung pada gaya hidup seseorang. Misalnya tidak semua orang yang melakukan traveling akan membeli souvenir atau oleh-oleh, atau tidak semua orang senang mencicipi makanan khas suatu daerah tujuan. Masing-masing orang punya caranya sendiri untuk mengatur pengeluaran agar tidak over budget. Yang paling umum dilakukan misalnya dengan memesan tiket perjalanan saat masa promo sehingga biaya pengeluaran bisa ditekan. Saat ini sudah banyak maskapai penerbangan yang menawarkan low budget air cost. Untuk perjalanan terakhir saya kemarin misalnya, saat diluncurkannya Thai Lion Air, maskapai tersebut memberikan tiket promo yang lumayan murah. Saya dan dua orang teman adalah beberapa dari orang yang beruntung mendapatkan tiket Jakarta-Bangkok hanya dengan 285,000 rupiah saja. Nah, apalagi pengeluaran yang bisa kamu tekan saat dalam perjalanan? Berikut langkah-langkah yang bisa kamu coba.


1.       Membawa bekal sendiri
Saat berencana melakukan perjalanan yang cukup lama, membawa logistic dari rumah memang sangat bermanfaat. Selain bisa dimakan sewaktu-waktu saat lapar, tentunya ini bisa menekan biaya pengeluaran untuk makan. Saat wisata kuliner, harus dipertimbangkan juga makanan apa yang benar-benar ingin dicicipi, toh tidak semua makanan akan kita coba -kalau masih ingin menghemat budget. Nah, makanan apa saja yang praktis dibawa saat dalam perjalanan? Abon, roti tawar, susu kental manis, cup mie instan, adalah sederet makanan yang bisa mengenyangkan perut saat di perjalanan sekaligus menghemat makan siang atau sarapan. Jangan lupa untuk selalu bawa botol minum. Biasanya di Negara-negara maju, mereka memiliki keran yang airnya bisa langsung diminum, seperti di bandara Changi, anda bisa mengisi botol air minum dari keran disana dan tentunya gratis! Begitu juga saat di Wat Pho, Bangkok, mereka memberikan refill air sepuasnya.

2.       Gunakan public transport
Dimana-mana yang namanya transportasi massal milik pemerintah biasanya memiliki tarif jauh lebih murah dari transportasi lain. Misalnya saja beberapa bus umum di Bangkok memasang tariff 6,5 bath ( 1 bath= 400 rupiah), atau bus di Ho chi minh bertarif 5000 Dong (2000vnd = 1000 rupiah) lebih enak lagi kalau yang tarifnya sesuai jarak perjalanan seperti di Indonesia, yang tariff angkotnya bervariasi mulai dari 2000 sampai 4000 rupiah. Tentu saja ada harga yang dibayar dari tariff murah ini, seperti tingkat kenyamanan dan fasilitasnya tentu berbeda dibandingkan kalau kita memilih naik taksi. Kalaupun ingin menggunakan taksi atau transportasi sejenis (bajaj, tuk-tuk), patungan dengan beberapa pejalan tentunya dapat menghemat pengeluaran. Untuk orang yang suka bergerak, menyewa sepeda bisa jadi pilihan menarik, selain harganya murah dan sepeda bisa jadi alternative pilihan untuk pergi ke lokasi-lokasi yang dekat dengan penginapan kita.

3.  Cari penginapan murah
Saat ini sudah banyak bermunculan hostel atau dorm yang berdiri di tiap lokasi wisata, di Jogja kini
sudah hada backpacker hostel atau Edotel yang menyediakan dorm dengan harga mulai 50,000 sampai
75,000 rupiah. Selain itu juga banyak situs yang memberikan bermacam pilihan hotel sesuai dengan
budget yang dikehendaki, misalnya saja Agoda, Hostelworld, dan lain-lain. Mengikuti forum backpacker
atau forum sejenis bisa jadi menjadi alternatif untuk mencari hostel mana yang benar-benar menawarkan
harga murah, meskipun berada di kawasan sekalipun.

4.  Manfaatkan bus malam 
     Pergi di malam hari saat akan berpindah destinasi atau ke kota lain akan menghapus pengeluaran kita untuk menyewa hotel. Jangan lupa untuk mempertimbangkan harga dengan fasilitas yang di dapat, meskipun harga bus murah tetapi kalau kursinya nggak nyaman malah bikin kita kesakitan dan nggak bisa tidur.

5.  Going with locals!
      Bergaul dengan warga lokal akan memberikan banyak manfaat bagi seorang pejalan. Selain bisa tahu budaya sehari-hari masyarakat setempat, kita juga bisa menghemat pengeluaran untuk biaya penginapan. Tengoklah forum Couchsurfing, dimana kamu bisa ''nebeng'' tinggal atau sekedar hang out bareng warga lokal. Selain itu keuntungan lain ialah mereka bisa membantu menawar harga dalam bahasa lokal saat kalian berhadapan dengan pedagang suvenir di daerah setempat. 

6. Do Explore! 
     Sama seperti belanja, untuk menemukan penawaran yang murah kita memang harus eksplor ke banyak tempat. Dari tempat makan, sewa kendaraan, penginapan, dan lain-lain. Biasanya tempat yang paling mudah dijangkau sama turis harganya bisa lebih mahal dari yang lebih jauh. Misalnya saat di Ayuthaya, tempat sewa sepeda paling dekat dengan jalan raya alias paling mudah terjangkau wisatawan, menawarkan sewa sepeda seharga 40bath, sedangkan di tempat lain hanya berjarak sekitar 50 meter ada yang memasang harga 20bath saja. Saat keadaan memaksa kita untuk makan di bandara yang notabene harganya jauh lebih mahal, kita harus mengeksplore betul-betul tempat mana yang menawarkan harga makanan yang setidaknya meskipun mahal, namun tetap worth it untuk dinikmati syukur-syukur bikin kenyang. Saat di Changi I'nal Airport, Burger King mau tidak mau jadi pilihan makan siang, 6$ harus kita relakan untuk sebuah burger saja tanpa minum. Malamnya, kita coba cari di foodcourt lain, masih di tempat yang sama, ternyata ada gerai makanan asia yang dengan harga kurang dari 6$ saja kita sudah bisa makan kenyang: satu mangkok mie yang tidak sedikit plus kopi. Tapi kan kenyang relatif ya? hihihi

Ini cara saya menghemat pengeluaran selama perjalanan, bagaimana dengan kamu? Let's share your thought! Oiya, apakah setiap perjalanan dengan dana yang terbatas kita (masih) harus beli oleh-oleh? Di postingan berikutnya saya akan mencoba mengulas hal apa saja yang jadi pertimbangan saat akan beli oleh-oleh meskipun dana kita minim. 


Aurevoir!

22 March, 2014

Meninggalkan Zona Nyaman



Kadang apa yang kita takutkan untuk dilakukan sesungguhnya tidak seburuk apa yang dibayangkan.

Hal yang paling umum sajalah:  Meninggalkan Zona Nyaman atau seperti yang saat ini sedang saya alami. Sebagian orang beranggapan bahwa hal tersebut pasti akan dialami setiap orang. Misalnya saja saat seseorang sudah selesai studi dan harus mencari pekerjaan di kota lain atau bahkan di Negara lain, mau tidak mau ia harus meninggalkan rumah yang notabene menjadi zona aman atau zona nyaman bagi mereka. Di sisi lain, ada juga sebagian orang yang enggan untuk meninggalkan zona nyamannya dan memilih untuk menetap di kota asalnya hingga lanjut usia.

Bagi saya sendiri, yang sudah duapuluh dua tahun tinggal di kota yang sama sejak lahir, tidak mudah meninggalkan tempat yang memang sudah bikin nyaman. Tapi lagi-lagi apa yang disebut nyaman bagi masing-masing orang itu relatif ya. Kalau nyaman bagi saya selama ini ya tinggal di Jogja, kota kelahiran dan dimana saya dibesarkan, bersama orang-orang terkasih, bisa orangtua, teman, sahabat, pacar, sampai saudara. Kadangkala kenyamanan tersebut bersifat fluktuatif hahaha, kadang sosok-sosok tersebut menyenangkan kadang menyebalkan. But that’s not a big deal. Namun bagi sebagian orang bisa jadi hal tersebut tidak membuat mereka nyaman. Ada orang yang merasa tidak nyaman jika tinggal bersama orangtua mereka saat sudah dewasa, ada juga yang merasa tidak betah tinggal di kota dimana ia dibesarkan karena faktor lain.

Bagi saya, meninggalkan zona nyaman berarti: pergi dari rumah baik dalam tempo lama atau sesingkat-singkatnya tanpa orang-orang yang membuat saya nyaman yaitu orang-orang yang tidak memiliki relasi dekat. 

Tiap kali pergi liburan seperti keluar kota dalam tempo beberapa hari dan sendirian atau bersama orang-orang yang sebelumnya tidak saya kenal, seringkali muncul semacam sindrom yang bikin tidak nyaman. Sindrom ini memunculkan perasaan tidak nyaman dan memunculkan banyak ketakutan dalam benak saya. Ketakutan-ketakutan ini seperti: bagaimana jika saya tidak beradaptasi dengan lingkungan yang baru atau asing, lalu bagaimana kalau saya tidak bisa berbaur dengan orang-orang yang sebelumnya tidak saya kenal, hingga ketakutan jika terjadi hal buruk dalam perjalanan namun biasanya saya usahakan untuk terus berpikiran positif dan menciptakan rasa aman bagi diri sendiri. Ketakutan-ketakutan tersebut jarang terjadi jika saya pergi berlibur atau melakukan perjalanan bersama sahabat, keluarga, atau partner saya, ya kembali lagi bahwa bersama individu-individu tersebut saya merasa nyaman dan aman.

Saat ini, sudah genap tiga minggu saya meninggalkan rumah dan bisa dibilang ini pengalaman pertama saya untuk hidup nomaden alias berpindah-pindah. Selama hampir dua minggu di awal bulan ini saya baru saja melakukan perjalanan yang tujuannya memang untuk liburan. Perjalanan tersebut memang cukup berbeda dari liburan-liburan sebelumnya, karena selain saya harus berpindah-pindah ke empat kota berbeda, saya juga sempat melakukan perjalanan sendirian setelah berpisah dengan dua orang teman sebelumnya. Sepulangnya dari perjalanan tersebut saya masih harus singgah di ibukota untuk menyelesaikan penelitian untuk tugas akhir saya, hingga dua minggu kedepan.

Pada awalnya saya cukup ragu dengan semua keputusan dan rencana yang saya buat. H-minus satu menjelang perjalanan, saya mulai melakukan persiapan. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan banyak pertanyaan yang mengganggu saya: Apa iya saya bisa melakukan perjalanan ini sendirian? Apa iya saya akan merasa aman nantinya? Bagaimana nanti kalau saya bertemu dengan orang yang berniat jahat terhadap saya? Kalau saya tidak menikmati liburan yang saya rencakan bagaimana? Jika data yang saya cari saat penelitian tidak ketemu bagaimana? Sungguh saya takut kalau tidak betah saat di Ibukota nanti. Duh, kalau begini saya ingin tinggal di rumah saja: bangun siang, nonton tivi, online depan computer seharian, dan nongkrong sama teman.

Then, how’s my life so far?

Jauh dari bayangan saya!

Pertama, Liburan saya memang berjalan menyenangkan, diluar hambatan yang memang sudah lazim terjadi sesuai prediksi. Saya banyak mendapatkan teman di perjalanan, ada saja orang yang membantu kesulitan selama perjalanan saya, banyak hal baru yang saya alami dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya, tentu saja banyak pelajaran yang saya dapatkan selama ini.

Kedua, bayangan saya soal ketidaknyamanan saat tinggal di ibukota memang benar adanya, but it’s not that bad! Nggak seburuk pikiran saya. Memang berdiri bermenit-menit dan berdesakan dalam KRL tiap pagi, terjebak dalam kemacetan dan kebisingan klakson kendaraan saat didalam angkot, hingga susahnya menyeberang di jalan raya itu bukanlah hal yang nyaman. Namun diluar itu saya justru menikmatinya! Mungkin karena hal tersebut jauh berbeda dengan rutinitas saya selama ini yang biasa menggunakan kendaraan pribadi, terbebas dari macet, dan serba cepat mau kemanapun. Ya, saya menikmati hal-hal baru tersebut. Di Jogja, saya jarang menggunakan transportasi umum, mau kemana-mana tinggal nak motor sendiri. Jalanan juga nggak semacet di Jakarta, namun kemacetan disini memang tidak lagi bisa ditolerir! Harus super sabaaaar.

Ketiga, meskipun jauh sebelum ini saya suka nyasar dan salah arah, namun kini dua hal tersebut sudah lazim saya alami dan itu tidaklah buruk. Banyak hal baru yang justru saya temui saat nyasar. Misalnya saat saya tersesat di Bangkok sendirian, saya jalan terus saja hingga pada akhirnya saya menemukan sebuah bangunan cantik semacam vihara yang ternyata di seberangnya ada Mall. Juga selepas kunjungan di sebuah kuil di HCMC kami entah harus berjalan kemana untuk mendapatkan angkutan umum, dan ternyata saat hilang arah tersebut kami menemukan warung kopi dengan furniture unyu yang seru buat photoshoot. Hahaha!

Keempat, perjalanan yang berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain membuat kegiatan packing-unpacking menjadi rutinitas yang biasa bagi saya. Dari  sini jadi pembelajaran gimana saya harus gerak cepat dan mengatur barang bawaan saya se-efisien mungkin untuk membuat perjalanan nyaman dan aman. Meskipun saya cukup sedih saat tahu kalau se-kresek berisi baju kotor saya tidak terpacking dalam backpack alias ketinggalan di hostel saat di Phnom Penh. 

Ternyata, meninggalkan zona nyaman itu tidaklah seburuk yang dibayangkan. Banyak hal kita belajar dari situ yang tidak akan pernah kita temui di perguruan tinggi manapun. Bukankah melakukan perjalanan itu adalah bagian dari seni bertahan hidup? 

So, let’s get lost!
Ciao!