Pages

28 July, 2014

Film-film tentang Perjalanan

          I want to talk about my current habits these days, old matters but I quite enjoy it rite now. Yep yep. I can watch movie online all day and back to my childhood habit, reading comic. I can spend a whole day by watching 2-3 movies then continue by reading comics. Until this day I can say that I have watched 10 movies, since about 3-4 days ago. Yup, semenjak waktu yang cukup luang sembari menunggu libur lebaran berakhir dan bertemu dosen pembimbing, maka menonton film menjadi aktivitas pilihan untuk mengisi waktu luang. Accidentally I got curious about an Indonesian movie called 99 Cahaya Di Atas Langit Eropa, 99 Lights above The Sky of Europe, since it's broadcasted many times in the tv. This movie talks about the journey of its author and her partner while they lived for 3 years in Vienna, Austria. The main issue that caught my attention is about the author's journey through some places in Europe where the Islamic history left. There I said, I love those movies that tell about journey, stranger on the road, new places, etc. Since I saw this movie then I looked for another movie which has common issue: journey. Tadinya sempat googling film-film apa yang bertemakan tentang perjalanan atau traveling, tapi beberapa sudah pernah saya tonton seperti Into The Wild, 270 hours, Life of Pi, dan lain-lain. Selain itu film lain yang direkomendasikan tidak begitu menarik bagi saya, saya ingin yang ada drama dan ringan ceritanya. Ya yang saya suka aja, biasanya berdasarkan dari desain poster atau sinopsisnya. First of all, I'd like to say deeply sorry because I can't afford to buy the real dvd of these movies or rent them, fyi: I only can see it through online streaming. Here I list numbers of those movies bellow. Let's check them out! 

1. 99 Cahaya di Langit Eropa party 1 dan 2
     Yang saya suka dari film ini adalah benturan-benturan budaya yang pada awalnya membuat tokoh utama, Hanum, merasa tidak kerasan tinggal di negeri orang, namun pada akhirnya berkat ''pengajaran-pengajaran'' yang didapatkan dari suami dan sahabatnya, Fatma, membuat Hanum betah tinggal di Eropa bahkan mampu mendapatkan pekerjaan yang ia idamkan. Menurut saya, film ini mengajarkan bagaimana perbedaan bukanlah halangan untuk tetap melanjutkan hidup sesuai dengan keyakinan dan nilai-nilai kemanusiaan kita.
Setting: Vienna, Paris, Cordoba, dan Istanbul.

2. Laura dan Marsha
    Randomly saya menemukan judul film ini dari googling 'film-film terbaik Indonesia'. Dramanya sih kurang suka tapi kisah perjalanan atau petualangan kedua sahabat, Laura dan Marsha, yang berbeda karakter ini cukup menarik. Seperti kebanyakan cerita soal persahabatan, klimaksnya ada pada konflik 2 tokoh yang ternyata memiliki tujuan masing-masing dalam perjalanan yang sama. Selain itu disini juga digambarkan bagaimana mereka harus survive di negara orang meskipun keduanya tidak lagi melanjutkan perjalanan akibat konflik tersebut.
Setting: Amsterdam, Bruhl (Jerman), Innsbruck (Austria), Verona, dan Venezia.

source: disini
3. Letters to Juliet
    Saya baru lihat film ini tadi pagi. Main idea dari ceritanya sih kalo saya simpulkan serupa sama cerita-cerita ftv di Indo gitu. Cowok yang nyebelin, Charlie, yang pada akhirnya jatuh cinta sama tokoh utama, Sophie, karena terlibat dalam sebuah perjalanan mencari cinta sejati nenek Charlie. Yang saya suka sih setting lokasinya, gambaran perkebunan anggur, gang-gang kecil di kota Verona, dan gestur bahasa Italianya! :) Konflik film ini yaitu tentang perjalanan yang ditempuh untuk mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati dan bukan hidup bersama kesenangan semu atau palsu *tsah tsah tsah* 
Setting: Italy (Verona, Sienna), New York.

4. The Family
    Tokoh utama dari film ini lah yang membuat saya tertarik melihatnya, Robert De Niro, yang gak kalah hot dengan George Clooney. Sebelumnya saya melihat Taxi Driver, versi mudanya Robert, kalau yang disini dia berperan sebagai seorang mafia yang kemudian harus hidup nomaden bersama keluarganya karena berada dalam program perlindungan saksi. Ending ceritanya bikin kecewa, tidak sesuai ekspektaksi. Saya kira Robert akan berhadapan langsung dengan musuh yang mengintainya, ternyata tidak dan hanya berakhir dengan scene perkelahian yang tidak lama dan cukup sederhana. Tetapi yang menarik yaitu adanya perbedaan tradisi yang harus dihadapi keluarga Robert dimana di Perancis tidak mudah mendapatkan selai kacang seperti di Amerika dan bagaimana menghadapi stereorip yang diberikan orang Perancis terhadap Yankee.
Setting: Perancis (Normandy)
 
5. How I Live Now
  Film ini berjalan dengan alur yang lambat tetapi yang saya senangi hanya bagian awal-awal saja dimana romantisme Eddie dan Daisy, yang dingin dan jutek, mulai tercipta. Daisy yang tidak memiliki rasa percaya diri, introvert, dan tidak ingin keluar dari zona nyaman akhirnya dapat mengubah hal-hal buruk tersebut semenjak kehadiran sosok Eddie dan keterlibatannya dalam perang yang sedang terjadi di Inggris. Daisy berasal dari Amerika yang kemudian menghabiskan liburan musim panasnya di Inggris. Disana ia tinggal bersama sepupu mereka dan mengisi waktu luang dengan berenang, bermain, mancing, dan aktivitas alam lainnya yang sangat tidak disenangi oleh Daisy. Saat Daisy mulai menikmati hari-harinya bersama Eddie, tiba-tiba konflik terjadi di negara mereka. Daisy dan adik perempuan Eddie harus berpisah dengan Eddie. Eddie berpesan pada Daisy agar dirinya berjanji untuk kembali.
Setting: di suatu pedesaan dan hutan di Inggris.

sumber: disini
6. Tiga Hari Untuk Selamanya
Film garapan ini bercerita tentang seorang perempuan, Ambar, bersama sepupunya, Yusuf, yang diluar rencana melakukan perjalanan Jakarta - Jogja menggunakan mobil. Jogjakarta menjadi tujuan perjalanan mereka karena mereka harus mengikuti prosesi pernikahan kakak Ambar. Yusuf pada awalnya memang diberikan tugas untuk mengantarkan peralatan makanan untuk prosesi midodareni, namun Ambar yang terlambat bangun dan ditinggalkan oleh keluarganya meminta untuk pergi ke Jogja bersama Yusuf. Waktu yang ditargetkan satu hari perjalanan molor menjadi tiga hari karena Ambar yang ingin melipir ke Bandung. Tak hanya itu saja mereka harus menghadapi konflik-konflik dalam perjalanan mereka yang pada akhirnya menjadi proses pendawasaan bagi Ambar. Film ini menarik untuk diikuti karena kejutan-kejutan kecil yang tidak diduga dalam beberapa adegan seperti saat mereka secara tiba-tiba 'kehilangan' mobil mereka saat menginap di rumah penduduk. Selain itu di sela-sela obrolan tokoh utama seringkali tersisipkan hal-hal berbau seksualitas dan juga pembicaraan tentang masa depan.

Well, masih banyak film-film lain yang belum saya temukan dan tonton semoga dengan segera bisa dinikmati ya! Dont forget to enjoy your summer holiday and let me know your suggestion about journey-themed-movie!
Ciao!

08 July, 2014

Mangrove Barros: Alternatif Wisata Alam dan Edukasi

      Yogyakarta bisa dikatakan tidak akan pernah kehabisan tempat menarik untuk dikunjungi. Terletak duapuluh lima kilometer selatan Kota Yogyakarta, tepatnya di Dusun Barros, Kecamatan Kretek, Bantul, Anda bisa menikmati keindahan alam yang mungkin belum banyak diketahui oleh banyak orang. Memang bukan tempat wisata populer yang ramai dikunjungi seperti Pantai Parangtritis atau Pantai Depok. Ya, di Barros Anda akan menjumpai lokasi konservasi mangrove yang berdampingan dengan muara Sungai Opak, yaitu sungai yang menampung aliran sungai-sungai kecil dari wilayah Yogyakarta bagian timur. Selain dapat dicapai melalui jalur darat, lokasi mangrove Barros ini dapat ditempuh dengan melintasi muara Sungai Opak. Berangkat dari Pantai Samas Anda bisa menggunakan kapal nelayan yang khusus dipesan untuk perjalanan ke Barros.  Jadi selain mengunjungi Barros, Anda juga dapat mampir ke beberapa pantai yang berada di sekitarnya seperti Pantai Gua Cemara, Pantai Pelangi, Pantai Baru Pandansimo, dan Pantai Samas.
 
mangrove yang baru ditanam

area outbond
           Mangrove yang ditanam di Barros ini merupakan mangrove buatan yang penanamannya dimulai tahun 2003 oleh Keluarga Pemuda Pemudi Barros (KP2B) didukung lembaga swadaya masyarakat RELUNG dan juga mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM. Secara mandiri konservasi mangrove kemudian dikelola oleh KP2B dibawah divisi konservasi. Penanaman mangrove sempat terhenti namun dilanjurkan lagi setelah terjadi gempa bumi pada 27 Mei 2006. Selain menahan abrasi, mangrove juga berfungsi sebagai penghalang angin atau wind barrier dan mencegah terjadinya intrusi air laut.  Kegiatan KP2B ini meliputi penanaman dan pemanfaatan mangrove sebagai objek wisata alam, wisata pertanian, wisata perikanan, dan outbond sehingga lokasi ini seringkali dikunjungi oleh murid-murid taman kanak-kanak hingga sekolah menengah sebagai wisata edukasi. Tidak hanya berkunjung para wisatawan juga mendapat kesempatan untuk ikut melakukan penanaman mangrove. Bagi mereka yang hobi memancing Barros adalah tempat yang tepat untuk menyalurkan kegemaran mereka. Kata guide rombongan kami, Mas Dwi, di muara Sungai Opak di Barros ini memang menjadi spot memancing favorit. Jika Anda mengunjungi muara Sungai Opak ini pada pagi hari maka Anda akan berjumpa dengan nelayan yang sedang melaut.
      Ada empat jenis mangrove yang dibudidayakan disini yaitu jenis rizopora, brueguera, avicenia, dan nipah. Jenis mangrove yang paling banyak adalah mangrove avicenia dengan persentase 60 persen, sedangkan yang paling sedikit yaitu mangrove nipah dengan persentase sebesar 10 persen. Selain mangrove disini juga dibudidayakan kepiting dalam keramba dan itik mangrove. Ada 48 spesies yang mengisi ekosistem di mangrove Barros sehingga kita dihimbau untuk tidak membuat kebisingan agar tidak mengganggu ekosistem yang ada. Selain disuguhi pemandangan yang indah, padang rumput, dan angin laut yang bertiup kencang, jangan kaget jika Anda juga akan menjumpai banyak sampah di area mangrove ini. Hal ini dikarenakan sampah-sampah tersebut merupakan sampah yang dibuang oleh masyarakat Yogyakarta yang terbawa arus laut. Jadi, tolong pikir ulang ya kalau mau buang sampah di laut karena masih ada ekosistem yang seharusnya bisa kita lindungi. 
muara Sungai Opak

Africa for awhile
       

28 June, 2014

What I miss most when I stop traveling

"the most hated thing while we travel is when we trapped in the discomfort zone, but who knows that is the one I miss most" (self-note)

source
Ada banyak hal yang nggak bisa kita beli begitu saja hanya dengan uang: kebaikan orang, kebahagiaan, kenangan. Mungkin saya akan membicarakan hal yang terakhir. Seringkali teman-teman saya yang hobi jalan-jalan, mengungkapkan kerinduannya akan momen-momen perjalanan setelah mereka vakum traveling. Yap, kenangan. Barang termahal yang nggak bisa begitu saja terbingkai dalam frame foto. Banyak orang yang menghabiskan uangnya bukan untuk membeli barang-barang mahal atau terkini, tapi justru hanya untuk membeli kenangan itu.
Kenapa saya tetiba ngomongin soal kenangan ini? Barusan seorang kawan posting salah satu sudut jalan di Khao San road, Bangkok, dimana disana lebih banyak dipenuhi orang-orang asing daripada orang lokalnya sendiri. Saya jadi ingat satu momen saat saya berada di sudut jalan yang sama. Saat tiba pertama kali di Khaosan road, saya dan teman-teman bersusah payah menenteng backpack dipunggung mencari penginapan dengan harga semurah mungkin. Jalan berratus-ratus meter dan bertanya sana sini hanya untuk mencari kenyamanan yang hanya akan disinggahi sesaat saja. Ketidaknyamanan. Ya, hal tersebut saya alami ketika itu dan sudah saya sadari bahkan jauh sebelum memulai perjalanan. Dimanapun kita akan menemui ketidakpastian, dan ketidakpastian itu akan berujung pada ketidaknyamanan. Karena orang semacam saya akan terus keep thinking, memikirkan hal-hal yang belum pasti saat berada dalam perjalanan. Hal ini berakibat buruk, saya jadi khawatir, ketakutan, hingga tidak enjoy saat melanjutkan perjalanan. Bertemu orang asing, seorang diri dalam perjalanan, ketakutan akan seorang kriminal, hal tersebut lazim terjadi saat kita berada jauh dari rumah, atau katakanlah jauh dari zona nyaman kita. Tetapi tiap kali saya teringat momen-momen itu justru semakin saya rindu. Beradu cepat dengan waktu untuk mengejar kereta, sebisa mungkin menghindari calo, berusaha sebisa mungkin percaya diri diantara orang-orang asing, dan mencoba tenang disaat segala hal tidak sesuai dengan rencana semula, sulit beradaptasi dengan teman seperjalanan, sulitnya menempatkan diri di tengah lingkungan baru adalah sejumlah hal yang sering membuat saya tidak nyaman yang ujung-ujungnya bikin saya nggak menikmati perjalanan. But the most important thing is how we solve all those things. Disitulah kita menemukan diri kita yang sesungguhnya, bagaimana kejadian-kejadian tersebut pada akhirnya membentuk jati diri kita. Tentunya masing-masing orang punya pengalaman yang berbeda sehingga hal inilah yang ikut membentuk karakter seseorang. Di perjalanan lah, sifat seseorang yang sesungguhnya akan muncul, tidak lagi ada kepura-puraan atau pembentukan citra diri. Tak sedikit orang yang justru lebih sering bertengkar dengan travel mate mereka karena seringkali tidak sejalan atau sependapat ketimbang menikmati perjalanan itu sendiri. Makanya tidak heran kenapa orang lebih memilih solo traveling daripada bepergian dengan beberapa orang.
Hadapilah ketidaknyamananmu karena sampai kapanpun kamu akan menemuinya. Biasakanlah sampai ketidaknyamananmu itu menjadi kenyamanan yang baru bagi dirimu. *macak Mario Teguk* Dare your self!

Pilpres teaches me many things



Kali ini saya mau ngomong serius. Tidak seperti postingan2 sebelumnya yang asal share beberapa aktivitas yang saya lakukan akhir2 ini. Otak saya baru saja memikirkan hal-hal yang saat ini sedang bikin ruwet suasana. Suasana di sekitar kita. Ya, ternyata energy kita banyak terbuang dengan percuma selama ini, khususnya di saat hiruk pikuk pilpres seperti sekarang. Sudah sering kita jumpai banyak status di sosial media yang mengeluhkan beberapa temannya sibuk dukung sana-sini, ngejelekin sana sini, yang berujung pada membanjirnya timeline mereka dengan hal-hal yang berbau capres-capresan atau newsfeed yang lebih banyak dipenuhi dengan berita2 pemilu. Ingat ada berapa orang lain juga yang sebetulnya jengah juga membaca keluhan Anda (mungkin saya salahsatunya). Seakan kita jengah dan malah ikut tersulut emosi. Bahkan fenomena ini berakhir pada sikap saling ‘unfriend’ teman mereka yang gengges banget tiap kali update status. Wajar sekali kalo seseorang sampai risih banget dengan sikap2 seperti di atas. Berita dan status di sosmed yang sering terupdate berulang-ulang membuat kita jenuh. Nonton tivi ketemunya berita itu-itu lagi, buka sosmed juga isinya itu-itu juga. Jadi wajar saja kalau kita bosan.
Tetapi sesungguhnya ada hal-hal yang menurut saya tidak perlu ditindaklanjuti sejauh itu (unfriend temen, ngeblock temen, atau bales2an argument soal siapa capres yg lebih unggul).
1.       Unfriend temen yang gengges di sosmed belum tentu keputusan yang benar
Kenapa? Kadang ada cara simple yang bisa lakukan tanpa harus melukai relasi kita dengan seorang teman melalui unfriend atau ngeblock akun lain. Misalnya dengan apa? Kita bisa mute setiap tweet mereka misalnya, atau tidak memunculkan update status mereka di newsfeed kita. Kenapa? Karena kita nggak tau lho kalau suatu saat kita ternyata masih butuh komunikasi dengan orang tersebut. Misalnya kita butuh si X ini dalam pekerjaan atau tugas kuliah kita, eh kita udah ga punya kontak dia lagi, kan susah juga kan? Mungkin secara sikap politik si X ini emang nyebelin tapi di sisi lain ada kemampuan dia yang kita butuhkan suatu saat. Jadi pikirkan baik2 kalau mau delete dia dari kehidupan kita, apalagi kalau kita emang nggak punya konflik yang berart. Ingat: jangan sampai Cuma beda pendapat, bikin kita putus hubungan dengan dia, lagian sifat orang2 yang nyebelin ini kan Cuma bersifat musiman atau sementara aja, ya Cuma pas musim pemilu kayak gini.
2.       Percuma buang tenaga dan pikiran buat nasihatin orang-yang-ga-bakal-berubah-sikap-dan-pikiran-hanya-dengan-ndengerin-ucapan-kita-terlebih-kalau-dia-adalah-publik-figur.
Ngetuit, mensyen, nyinyirin orang itu hak tiap individu. Tapi kadang kita nggak sadar, kalau pendapat kita ini nggak akan berefek banyak buat orang yang kita nyinyirin, terlebih lagi kalau kita nyinyirin public figure yg jelas2 udah banyak orang lain yg mensyen dia dan belum tentu dibalas pula. Di tengah hiruk pikuk pilpres sekarang ini, banyak artis, politisi, tokoh masyarakat, yang tingkahnya sering bikin betek kita, tak jarang menuai hinaan, makian, dari followernya. *udah tau nyebelin kenapa masih juga follow* niat hati pengen ngingetin, negur, atau maki2 tingkah laku mereka, tapi lihat deh, apa iya mereka bakal baca teguran kita di sosmed? Oke, mereka baca, tapi apa iya dibales? Kalopun dibales apa iya sikap mereka akan berubah hanya karena baca nasihat/pendapat kamu? Sebenernya bukan masalah besar sih mau dibales apa enggak, tapi ingat berapa menit waktu yg kamu habiskan buat ikut ngurusin kehidupan dia? berapa kalori yang kamu habiskan buat maki-maki dia? kecuali kalo hal tersebut bisa bikin perubahan signifikan sih oke-oke aja (missal akibat makianmu thd AHMADDhani karena video klip yang kontroversialnya itu bikin dia minta maaf sama public dan ngasih ganti rugi sama musisi yang lagunya udah dia jiplak itu). Tak jarang saya pun mudah tersulut sama sikap2 publik figure yang bodohnya nggak habis2. Tapi saya pikir2 ulang buat maki2 atau sekedar negur dia sosmed, “orang ini public figure. Sudah biasa dengan pro-kontra di sekitarnya. Mau dia dimaki sejuta followernya di timeline, hal itu bakal masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Artinya mau saya maki2 dia, ngata2in dia, nggak akan ada yang berubah dari dirinya” Jadi kadang saya suka senyum2 dalam hati saja kalo lihat orang bodoh yang nggak ada habisnya di negeri ini. Emang suka gemes mau nyinyirin orang macam itu, tapi kadang saya pikir2 lagi, nanti saya bisa2 ikutan “gila”. 
3.       Don’t take what media says seriously

 “Television is a box of toxic that may fill our mind any time by spreading hateful news and cheesy drama.” 

Like a toxic, we should detox it. Saya mungkin bukan satu2nya jengah sama siaran tv di Indonesia. Tapi gimana dong? Buat pasang tv kabel saya belum mampu, satu2nya hiburan kalo sinyal internet lagi ga ada yam au ga mau liat tivi. Tetapi selama kita masih bisa filter ataud detox hateful news di televise, it’s Ok lah ya… untungnya sekarang2 ini ada beberapa stasiun tv yang isi beritanya (katanya) nggak tendensius atau memihak salah satu capres (sebut saja Kompas tv atau rajawali tv).

Untuk hidup tenang di tengah hiruk pikuk pilpres tahun ini, masih mungkin kok. Harapan itu masih ada. Tinggal bagaimana kita bisa bersikap bijak untuk tidak senggol sana-sini and don’t take those hateful things seriously! Demi kenyamanan dan ketenangan hati tiap2 individu mari kita wujudkan kebebasan untuk memilih dan sikap saling toleransi satu sama lain. Salam 2 jari! (^-^)v *teteup*

oiya, semua poin-poin di atas saya tulis dengan segala kerendahan hati buah pikiran saya, tidak maksud buat menyinggung atau menyerang siapapun. Jadi tolong jangan diambil hati ya kalo ada salah2 kata :))